Don't Show Again Yes, I would!

Harga Batubara diprediksi Akan Mengalami Tekanan Kembali pada Tahun Mendatang.

Menurut Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, harga batubara diperkirakan akan terus mengalami tekanan pada tahun 2024. Prediksinya didasarkan pada ketergantungan harga batubara dunia terhadap permintaan dari China dan India.

Kondisi ekonomi kedua negara tersebut menunjukkan kecenderungan untuk lebih fokus pada produksi dalam negeri. Terlebih lagi, China, sebagai konsumen terbesar, juga merupakan salah satu produsen batubara terkemuka di dunia.

Dalam menghadapi perlambatan ekonomi, China memusatkan perhatian pada tambang batubara di dalam negeri, mengakibatkan penurunan impor. Di sisi lain, India, sebagai konsumen batubara terbesar kedua di dunia, mengurangi impor batubara dan fokus pada produksi dalam negeri karena permintaan listrik yang rendah.

Ibrahim Assuaibi menjelaskan, “Kedua negara importir terbesar batubara mengalami penurunan impor, yang berdampak pada terus turunnya harga batubara.”

Penurunan harga minyak dunia turut memengaruhi penurunan harga komoditas energi lainnya, termasuk gas alam dan batubara. Selain itu, kondisi musim dingin yang tidak terlalu dingin di Eropa dan belahan bumi utara karena musim panas yang ekstrem ikut mempengaruhi permintaan batubara dari negara-negara Eropa.

Menurut Ibrahim, harga batubara berpotensi terus mengalami koreksi hingga akhir tahun 2023, mencapai sekitar US$ 135 per metrik ton. Data pada Selasa (19/12) menunjukkan harga batubara berada di level US$ 145,25 per metrik ton atau mengalami penurunan sebesar 0,51% dalam seminggu.

Untuk tahun 2024, pergerakan harga batubara diperkirakan akan berada dalam kisaran US$ 90 hingga US$ 140 per metrik ton. Beberapa faktor penyebabnya termasuk meredanya konflik Hamas-Israel dan berakhirnya perang Rusia-Ukraina, serta batubara secara perlahan kembali ke harga fundamentalnya.

Wahyu Tribowo Laksono dari Traderindo.com melihat bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, harga batubara masih cenderung tertekan. Hal ini disebabkan oleh penurunan permintaan batubara termal dari China dan India.

China diperkirakan akan mengimpor 24,82 juta metrik ton batubara termal seaborne pada Desember, turun dari 29,38 juta pada November. Kemudian India akan mengimpor 14,54 juta metrik ton batubara termal seaborne pada bulan Desember 2023, turun dari 17,42 juta pada bulan November.

“Jika kondisi fundamental global masih rentan, maka harga bisa cenderung turun lagi atau setidaknya konsolidatif di awal tahun 2024,” kata Wahyu.

Di sisi lain, dalam jangka pendek, harga batubara masih di posisi oversold dan berpotensi mengalami rebound. Faktor pendukungnya berasal dari musim dingin yang biasanya meningkatkan permintaan batubara, ditambah dengan fakta bahwa harga batubara sudah mengalami penurunan yang signifikan sebelumnya.

Wahyu Tribowo Laksono memproyeksikan bahwa rentang harga batubara dalam kuartal IV-2023 berada di antara US$ 120 hingga US$ 160 per metrik ton. Selanjutnya, untuk kisaran harga tahun 2024, diprediksi berada di rentang US$ 100 hingga US$ 300, dengan strategi sell on strength jika harga naik di atas US$ 250, dan buy on weakness jika harga berada dekat atau di bawah US$ 100.

Sumber berita : https://investasi.kontan.co.id/news/harga-batubara-diramal-kembali-tertekan-pada-tahun-depan#google_vignette

 

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *