JAKARTA – Lebih dari 4.000 alumni Korea International Cooperation Agency (KOICA) di Indonesia berpotensi memperkuat kerja sama Indonesia dan Korea Selatan. Tersebar di berbagai instansi pemerintah pusat dan daerah, para alumni menjadi bagian dari jejaring yang menghubungkan pertukaran pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, dan peluang kolaborasi kedua negara.
Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam KOICA Scholarship Alumni Gathering yang digelar KOICA Scholarship Alumni (KOSA) di Pullman Hotel Jakarta, Jumat (2/10/2026). Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan ini membahas perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan peluang kerja sama Indonesia-Korea Selatan di bidang teknologi.
Acara tersebut dihadiri Mr. Chung Hae Kwan, Minister Counsellor Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta, dan Mrs. Kim Hyo Jin, Country Director KOICA Indonesia Office, serta para alumni KOICA dari berbagai instansi dan latar belakang profesi.
Dalam sambutannya, Mr. Chung Hae Kwan menyoroti pentingnya hubungan antarmasyarakat dalam menjaga keberlanjutan kemitraan Indonesia dan Korea Selatan. Selain kerja sama antarpemerintah, pertukaran pengalaman dan pengetahuan melalui jejaring alumni dinilai memiliki ruang untuk mendukung hubungan kedua negara.
Perkembangan AI turut membuka peluang kolaborasi baru, terutama dalam pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan inovasi pelayanan publik. Pengalaman Korea Selatan dalam transformasi digital dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia dalam mengembangkan pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan nasional.
Ketua KOSA, Windha, mengatakan jejaring alumni yang tersebar di berbagai instansi merupakan modal penting untuk memperluas pertukaran informasi dan mendorong kolaborasi lintas sektor.
“Dengan lebih dari 4.000 alumni yang tersebar di berbagai instansi pemerintah pusat dan daerah, KOSA memiliki potensi besar untuk menjadi penghubung pengetahuan, pengalaman, dan inovasi antara Indonesia dan Korea Selatan. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat silaturahmi, membuka ruang pertukaran informasi, serta mendorong kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi institusi dan masyarakat,” ujar Windha.
Menurut Windha, hubungan yang terbangun melalui program beasiswa dan peningkatan kapasitas perlu dilanjutkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan kerja dan masyarakat. Karena itu, gathering menjadi kesempatan bagi para alumni untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan mengidentifikasi peluang kerja sama.
Tema AI yang diangkat tahun ini juga relevan dengan kebutuhan peningkatan kapasitas aparatur dan transformasi digital pemerintahan. Pemanfaatan AI berpotensi mendukung efisiensi proses kerja dan kualitas pelayanan publik, tetapi tetap memerlukan kesiapan sumber daya manusia serta tata kelola yang tepat.
Melalui KOSA, para alumni diharapkan dapat memperkuat hubungan profesional dan mengembangkan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti program KOICA. Jejaring ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi yang lebih konkret antara institusi di Indonesia dan mitra di Korea Selatan.
Dengan jumlah alumni yang mencapai lebih dari 4.000 orang, KOSA memiliki ruang untuk menghubungkan pengalaman individu menjadi pertukaran pengetahuan dan inisiatif bersama. Penguatan jejaring tersebut diharapkan dapat mendukung kemitraan Indonesia-Korea Selatan, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia, transformasi digital, dan inovasi pelayanan publik.

