Di lekukan curam jalan nasional Bireuen–Takengon, terdapat sebuah kawasan bernama Tajuk Enang-Enang. Bagi sebagian orang, ia mungkin sekadar jalur berkelok yang memacu adrenalin. Namun bagi masyarakat Gayo di Bener Meriah, Enang-Enang adalah monumen hidup yang menyimpan memori kolektif tentang air mata, kerja paksa era kolonial, dan perjuangan bertahan hidup.
Ketika banjir bandang dan longsor hebat memutus urat nadi transportasi tersebut, ketidakpastian sempat menggelayuti kawasan Pintu Rime Gayo. Di tengah kekosongan informasi dan lambatnya gerak birokrasi, lahirlah sebuah gerakan yang digerakkan oleh satu hal purba, yaitu ketulusan.
Adalah Syahrial, seorang warga lokal yang mendadak viral di jagat maya. Bukan karena ia mencari panggung, melainkan karena aksi nyata dan suaranya yang menggetarkan sanubari banyak orang. Didorong rasa ikhlas untuk menyambung kembali asa warga yang terisolasi, Syahrial memelopori gerakan gotong royong secara swadaya untuk membuka kembali akses jalan dan jembatan di Enang-Enang dengan dana donasi masyarakat.
“Kami bergerak dengan ikhlas, tanpa memandang siapa atau kendaraan apa yang lewat, ini demi kemanusiaan,” kenang Syahrial. Baginya, mempertahankan Enang-Enang adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur Gayo yang dahulu dipaksa memeras keringat dan bertaruh nyawa membelah tebing demi jalan ini.
Aksi heroik Syahrial memantik simpati luar biasa dari publik. Dukungan mengalir deras bak bola salju hingga bantuan yang terkumpul menembus angka fantastis, 1 miliar rupiah. Namun, ketulusan warga sempat membentur dinding regulasi. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh mengkhawatirkan aspek keselamatan karena menilai struktur darurat tersebut belum stabil, bahkan sempat memunculkan polemik rencana penutupan jalan yang memicu kecaman luas dari masyarakat.
Di titik kritis inilah, negara hadir bukan dengan keangkuhan otoritas, melainkan dengan pendekatan yang memanusiakan manusia. Ada dua sosok penting yang menjadi jangkar diredamnya polemik ini, yaitu Tito Karnavian yang di dampingi Safrizal ZA, yang bertindak sebagai Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Aceh, menjadi sosok penengah yang responsif. Ia mengingatkan semua pihak bahwa negara tidak boleh menutup mata atau mengabaikan modal sosial yang luar biasa ini.
Puncaknya terjadi ketika Ketua Satgas PRR Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menginjakkan kakinya langsung di Bener Meriah di bawah guyuran hujan lebat Tajuk Enang-Enang. Di bawah langit Gayo, Tito Karnavian merangkul Syahrial dan para tokoh masyarakat untuk merumuskan solusi jalan tengah yang konkret dan berkeadilan.
Dalam dialog tatap muka tersebut, ketegangan mencair. Pak Tito memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada gerakan swadaya warga. Alih-alih kaku pada aturan baku, beliau merumuskan langkah strategis yang memadukan keamanan jangka pendek dan kemegahan jangka panjang.
Sebagai solusi cepat, Balai PU diperintahkan segera memuluskan, memperlebar, dan menambal lubang di jalur alternatif Wela agar transportasi masyarakat lancar. Mengingat struktur jembatan lama saat ini masih rawan, kendaraan berat dilarang melintas. Pemerintah akan memasang portal pengaman agar jembatan hanya dilalui kendaraan roda dua atau roda empat berukuran kecil demi keselamatan bersama.
Di sisi lain, berkat keikhlasan warga yang telah menyepakati pembebasan lahan, sebuah jembatan panjang permanen sepanjang 300 meter siap dibangun. Proyek dengan nilai investasi mencapai 700 milliar rupiah ini ditargetkan mulai dibangun tahun depan dengan masa pengerjaan selama 3 tahun. Jembatan megah ini akan menjadi ikon kebanggaan baru bagi masyarakat Bener Meriah.
Namun, poin paling menyentuh dari komitmen negara hari itu adalah keberpihakan terhadap nilai historis daerah. Pak Tito dengan tegas menyatakan bahwa jembatan lama ini tidak kita hilangkan karena ia sejarah. Artinya, modernisasi setinggi 700 miliar rupiah tidak akan mengubur masa lalu.
Jembatan Enang-Enang yang sarat akan sejarah peradaban Gayo akan tetap dipertahankan, dirawat, dan diperkuat strukturnya agar bisa terus berdiri berdampingan secara harmonis dengan jembatan baru.
Komitmen ini bukan sekadar janji di atas kertas. Langkah serius negara langsung dikunci dengan konfirmasi bahwa Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, dijadwalkan langsung turun ke lapangan pada hari Rabu esoknya untuk meninjau detail teknis agar seluruh rencana eksekusi berjalan tanpa penundaan.
Pertemuan di Bener Meriah hari itu memperlihatkan keindahan dari proses bernegara. Ada Syahrial dengan ketulusan rakyat jelata yang bergerak atas dasar cinta, ada Safrizal ZA yang peka mendengar keresahan warga, dan ada Tito Karnavian yang membawa otoritas kebijakan nasional untuk merangkul aspirasi lokal.
Pada akhirnya, polemik Enang-Enang memberi pelajaran berharga bagi Indonesia, bahwa pemulihan pascabencana yang paling bermartabat dicapai bukan ketika aturan memenangkan ego, melainkan ketika negara dan warganya duduk bersama, menghormati sejarah, dan melangkah searah menuju masa depan. []





